PTA Maluku Utara

Dirjen Badilag Sambangi Kadaton Tidore

Di sela kunjungannya ke Maluku Utara dalam rangka Pebinaan Teknis Administrasi bagi Peradilan Agama se-Wilayah Hukum PTA Maluku Utara, Bapak Direktur Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung RI, Dr. Drs. H. Aco Nur,S.H.,M.H dan rombongan “menyambangi” Kadaton Tidore yang merupakan istana dari Kesultanan Tidore di Soa-Sio, Kota Tidore Kepulauan, Jum’at (5//11/21).

Kadaton Tidore atau biasa disebut oleh penduduk setempat dengan Kadato Kie letaknya tidak terlalu jauh dari Kantor Pengadilan Agama Soa-Sio, karena memang Pulau Tidore merupakan pulau kecil di Kawasan Maluku Utara. Namun pulau kecil ini membahana ke dunia internasional karena komoditas unggulannya berupa cengkeh, pala dan kayu manis. Komoditas inilah yang membuat Bangsa Eropa sangat berambisi untuk menguasai Tidore dan pulau-pulau di sekitaranya.

Sekitar pukul 09.30 WIT, rombongan tiba di Kadaton Tidore, disambut oleh Jojau Kesultanan (perdana Menteri), Muhammad Amin Faroek, S.IP karena Sultan Tidore, Sultan Husain Alting Syah sedang menjalankan tugas di Jakarta sebagai anggota DPD RI asal Provinsi Maluku Utara.

 Di aula/ruang tamu Kesultanan, rombongan disuguhi kopi dabe yang merupakan minuman tradisonal khas Tidore. Minuman ini terbuat dari kopi yang direbus dengan rempah-rempah seperti cengkeh, pala dan kayu manis. Kopi dabe  merupakan minuman istimewa yang hanya disajikan untuk tamu kehormatan di Kesultanan Tidore.

Di hadapan rombongan, Jojau Kesultanan Tidore, Muhammad Amin Faroek menguraikan sejarah singkat Kesultanan Tidore. Menurutnya, masa kejayaan Kesultanan Tidore terjadi saat Kesultanan dipimpin oleh Sultan Nuku (1797-1805). Saat itu kekuasaannya meliputi sebagian besar Pulau Halmahera, Pulau Buru dan Kawasan Papua Barat (Raja Ampat) bahkan sampai ke Kepulauan Pasifik.

Sultan Nuku sangat gigih melawan penjajahan Belanda dan di bawah kekuasaannya, Kesultanan Tidore sangat disegani oleh kawan dan lawan, khususnya di Kawasan Timur Nusantara. Dan Ketika Indonesia merdeka pada Tahun 1945, Kesultanan Tidore bergabung dengan NKRI.

Usai menguraikan Riwayat singkat Kesultanan Tidore, Jojau Kesultanan mengajak rombongan foto bersama di hadapan “singgasana” Kesultanan, dilanjutkan melihat beberapa ruangan Kadaton dan benda-benda pusaka Kesultanan.

Setelah selama satu jam di Kadaton, Bapak Dirjen Badilag yang didampingi Sekretaris Ditjen Badilag, Drs. Arif Hidayat, S.H.,M.M, Direktur Pembinaan Tenaga Teknis Peradilan Agama, Dr. Candra Boy Seroza, S.Ag.,M.Ag, Direktur Pembinaan Administrasi Peradilan Agama, Dr. Dra. Nur Djannah Syaf, S.H.,M.H., Ketua PTA Maluku Utara, Drs. H. Subuki, M.H., Ketua PA Ternate, Drs. Djabir Sasole, M.H., Katua PA Soa-Sio, Dacep Burhanudin, S.Ag.,M.HI dan rombongan meninggalkan Kadaton untuk selanjutnya menuju PTA Maluku Utara di Sofifi.