PTA Maluku Utara

“Ibadah Puasa Bersifat Universal”, Pembinaan Rohani oleh YM Dr. H. Chazim Maksalina, M.H.

Sofifi, 14 April 2021

 

Puasa di Bulan Ramadhan merupakan kewajiban bagi ummat Islam, namun kewajiban puasa itu sudah ada sejak era pra-Islam, sebagaimana dijelaskan Allah dalam surah Al Baqarah ayat 183: ”Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. Bahkan ritual puasa bukan hanya dilakukan oleh ummat penganut agama samawi, tetapi juga bagi penganut agama nonsamawi, karena itu ibadah puasa bersifat universal. Demikian disampaikan Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Agama Maluku Utara, Dr. H. Chazim Maksalina, M.H. dalam tausiahnya pada kegiatan Pembinaan Rohani usai Sholat Dzuhur berjamaah di Musholla Al-Mahkamah PTA Maluku Utara, Rabu (14/04/21) kemarin.

Menurut Pak Chazim, kewajiban puasa pada ummat terdahulu bahkan lebih berat dari kewajiban terhadap umat Islam. Mereka (ummat Nabi Isa a.s.) selain tidak dibolehkan kumpul suami istri di malam hari selama puasa, juga diwajibkan satu hari sebelumnya dan satu hari sesudahnya dari bulan yang diwajibkan berpuasa itu, bahkan bila bulan puasa itu jatuh pada musim yang sangat panas atau musim yang sangat dingin, mereka menggeser pelaksanaan puasa tersebut ke musim semi dengan tambahan 20 hari, sehingga total puasa mereka menjadi 50 hari.

Sejarah juga mencatat, lanjutnya, bahwa orang-orang besar umumnya melakukan ritual puasa, seperti yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga dan juga tokoh sekaligus pendiri agama Buddha, Siddharta Gautama.

 

Pada bagian lain, Pak Chazim menyinggung hubungan Nabi Muhammad dengan penganut agama lain yang sangat baik. Misalnya, Ketika beliau masih berusia 12 tahun ikut mendampingi pamannya, Abu Thalib berdagang ke Negeri Syam (Suriah), dalam perjalanan bertemu dengan seorang Pendeta Nasrani bernama Buhaira. Sang pendeta melihat Muhammad punya keistimewaan seperti yang diketahuinya dari Kitab Injil sehingga dia meyakini bahwa anak ini akan menjadi utusan Allah. Maka sang pendeta pun menyuruh Abu Thalib untuk membawa Muhammad pulang ke Makkah karena dikhawatirkan akan disakiti atau bahkan dibunuh oleh orang-orang yang tidak menyukainya.

Peristiwa lain yang menggambarkan hubungan baik dengan tokoh agama lain adalah setelah Nabi menerima wahyu pertama, beliau pulang ke rumah dalam keadaan menggigil. Beliau meminta sang istri tercinta, Siti Khadijah untuk menyelimutinya. Selanjutnya Nabi menceritakan apa yang baru saja dialami beliau di Goa Hira. Keesokan harinya, Khadijah pergi membawa Nabi untuk bertemu seorang Pendeta bernama Waraqah bin Naufal. Di hadapan sang pendeta, Nabi menceritakan apa yang dialaminya di Goa Hira, kemudian Waraqah berkata bahwa yang datang kepada Nabi di Goa Hira itu adalah Namus yang pernah diturunkan kepada Nabi Musa AS. Namus adalah Malaikat Jibril.”Dari peristiwa ini dapat disimpulkan bahwa hubungan Nabi dengan tokoh agama lain sangat baik”, ujarnya

Kegiatan rutin setiap hari selama bulan Ramadhan tersebut dihadiri oleh Bapak Ketua PTA Maluku Utara, Bapak Dr. H. Insyafli, M.H.I, para hakim tinggi, panitera, sekretaris, para pejabat fungsional dan struktural serta seluruh pegawai.