PTA Maluku Utara

Pembinaan Rohani di PTA Maluku Utara

Pembinaan Rohani bagi pegawai PTA Maluku Utara dilaksanakan secara rutin setiap Rabu sore setelah shalat Asar berjamah di Mushalla “Al Mahkamah”. Dalam pelaksanaan Rabu (24/3) kemarin tausiah disampaikan oleh Hakim Tinggi PTA Maluku Utara, Drs. H.M. Gapuri, S.H.,M.H.

Mengawali tausiahnya, Gapuri mengangkat sebuah cerita di suatu kampung/desa. “Sebagai sebuah komunitas di kampung itu ada keluarga petani, ada ustad ada pedagang dan sebagainya”, katanya. Ada seorangi Petani yang hidupnya sangat sederhana, ia ingin memberikan sesuatu kepada ustad, tapi dia tidak punya apa-apa selain singkong yang dia tanam di belakang rumahnya. Ketika singkong dipanen, beberapa bongkah singkong diberikan kepada Pak Ustad yang ada di kampung itu.

Setelah singkong diberikan, tak tahunya Pak Ustad malah memberikan ayam jago kepadanya.

Ketika si petani pulang, di perjalanan ketemu seorang yang berprofesi sebagai pedagang, kemudian terjadi dialog antara si pedagang dengan si petani itu, yang intinya bahwa si petani mendapatkan seekor ayam dari Pak Ustad karena ia memberikan singkong kepadanya.

Nah pada saat itulah muncul pemikiran dari si pedagang, kalau ngasih singkong dapat ayam, berarti kalau ngasih ayam akan dapat kambing dan kalau ngasih kambing berarti akan mendapatkan sapi.

Ringkas cerita si pedagang langsung membeli kambing dan langsung memberikan kambing itu kepada Pak Ustad.

Setelah mengucapkan terima kasih atas pemberian kambing itu, Pak ustad mempersilakan si pedagang menunggu dan ustad langsung masuk ke rumah. Dia bertanya kepada sang istri, apa yang bisa diberikan untuk si pedagang yang memberi kambing kepadanya itu. Si isteri menjawab tidak punya apa-apa kecuali sisa singkong pemberian petani yang belum direbus.

Akhirnya sisa singkong itu diberikan ustad kepada si pedagang. Maka muka si pedagang langsung pucat begitu melihat yang diberikan pak ustad hanya sebongkah singkong dan ia merasa kehilangan uang sekian juta untuk beli seekor kambing.

Pelajaran apa yang yang kita dapatkan dari cerita ini? Yaitu pelajaran tentang keikhlasan dan ketidakikhlasan.

Si petani dan pak ustad dua orang yang ikhlas yang tidak mengharapkan imbalan dari pemberian mereka. Karena keikhlasan mereka, maka mereka mendapatkan imbalan yang jauh lebih besar dari apa yang mereka berikan.

Namun si pedagang memberikan kambing kepada pak ustad dengan harapan mendapatkan seekor sapi, itu berarti ada udang di balik batu, alias tidak ikhlas, akhirnya seekor kambing dibalas dengan bongkahan singkong.

Tentang pengertian ihklas mungkin sudah banyak yang tahu, “Inna shalati wanusuki wamahya ya wamamati lillahi rabbil alamin”. “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, lillahi raabil alamin”

Orang yang ikhlas adalah orang-orang yang tidak mempan atau imun dari godaan iblis. Ini bisa dilihat dari pernyataan Iblis setelah ia diusir Allah dari sorga karena tidak mau sujud kepada Adam AS. Dalam surat Al Hijr ayat 39-40 Allah berfirman yang artinya:”Iblis berkata: Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pastilah aku akan menjadikan mereka (manusia) memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi dan pasti aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis (ikhlas) diantara mereka”.

Di akhir tausiahnya, Gapuri mengajak jamaah untuk selalu berusaha ikhlas dalam setiap amal dan perbuatan agar keberkahan senantiasa tercurah kepada kita semua.

Kegiatan Pembinaan Rohani tersebut dihadiri oleh Ketua PTA Maluku Utara, Dr. H. Insyafli, M.H.I., para Hakim Tinggi, pejabat fungsional dan struktural serta seluruh pegawai PTA Maluku Utara.