PTA Maluku Utara

Profesionalisme Seorang Hakim Dari Kacamata Seorang Ketua PTA oleh YM Dr. H. Insyafli, M.H.I.

PROFESIONALISME SEORANG HAKIM

DARI KACAMATA SEORANG KETUA PTA

Oleh : DR. H. Insyafli, M. H. I

Ketua Pengadilan Tinggi Agama Maluku Utara

I.  Pengantar

            Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ditemukan kata profesionalisme dengan pengertian sebagai berikut :

“profesionalisme/pro·fe·si·o·nal·is·me/ /profésionalisme/  mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau orang yang profesional:  perusahaan kecil perlu ditingkatkan dalam waktu belakangan ini”.

          Jabatan Hakim adalah suatu profesi, atau satu bidang pekerjaan keahlian, yang hanya bisa dijabat oleh orang-orang yang memiliki kompetensi di bidang hukum tertentu, dan melewati serangkaian test dan assessment tertentu untuk dapat masuk ke dalam jabatan keahlian tersebut.

             Untuk menjadi seorang hakim di Peradilan Agama misalnya seorang harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

Pasal 13 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 menentukan bahwa untuk dapat diangkat menjadi Hakim pada Pengadilan Agama, seorang calon harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

  1. warga negara Indonesia;
  2. beragama Islam;
  3. bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
  4. setia kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945;
  5. bukan bekas anggota organisasi terlarang Partai Komunis Indonesia, termasuk organisasi massanya atau bukan seseorang yang terlibat langsung ataupun tak langsung dalam Gerakan Kontra Revolusi G.30.S/PKI”, atau organisasi terlarang yang lain;
  6. pegawai negeri;
  7. sarjana syari’ah atau sarjana hukum yang menguasai hukum Islam;
  8. berumur serendah-rendahnya 25 (dua puluh lima) tahun;
  9. berwibawa, jujur, adil, dan berkelakuan tidak tercela.

         Pasal 14 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 mengatakan bahwa Untuk dapat diangkat menjadi Hakim pada Pengadilan Tinggi Agama, seorang calon harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

  1. syarat-syarat sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) huruf a, b, c, d, e, f, g, dan i;
  2. berumur serendah-rendahnya 40 (empat puluh) tahun;
  3. berpengalaman sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun sebagai Ketua atau Wakil Ketua Pengadilan Agama atau 15 (lima belas) tahun sebagai Hakim Pengadilan Agama.

             Setelah lulus test calon hakim, seseorang calon akan melalui beberapa tahap penddikan dan pelatihan calon hakim, memperdalam bidang-bidang ilmu yang terkait dengan tugas pekerjaan seorang hakim. Bahkan setelah seseorang menjadi hakim, masih beberapa kali mengikuti pelatihan teknis dan pendalaman materi yang terkait dengan bidang pekerjaan dan keahlian hakim.

             Pertanyaannya adalah apakah dengan melalui test cakim, pendidikan cakim dan pelatihan teknis dan pendalaman materi beberapa bidang hukum yang terkait dengan bidang keahlian hakim seorang hakim itu sudah otomatis bisa disebut professional. Sekitar masalah inilah makalah ini ingin penulis persembahkan.

II.  Pembahasan

      Sebagaimana pada bagian awal tadi penulis sudah kutipkan arti kata profesionalisme yang sesungguhnya. Di dalam kata profesionalisme itu terkandung tiga makna yang tidak bisa dipisahkan antara satu sama lain. Ketiga makna itu adalah sebagai berikut :

  1. Makna Mutu.
  2. Makna kualitas.
  3. Makna tindak tanduk/sikap/ integritas.

               Makna mutu mengandung maksud, bahwa seseorang yang professional itu, memiliki suatu keahlian, dalam hal yang terkait dengan hakim adalah keahlian dibidang hukum yang sesuai dengan bidang kerjanya. Seperti yang tertulis di dalam Pasal 13 dan Pasal 14 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 di atas, bahwa salah satu persyaratan calon hakim Pengadilan Agama adalah berijazah Sarjana Syari’ah atau Sarjana Hukum. Kalau tidak berijazah Sarjana Syari’ah atau Sarjana Hukum seseorang tidak akan diterima mengikuti test calon hakim Pengadilan Agama. Sedangkan untuk menjadi Hakim Tinggi atau hakim di Pengadilan Tinggi Agama, disamping syarat harus Sarjana Syari’ah atau Sarjana Hukum, paling sedikit dia harus sudah berpengalaman 5 (lima) tahun sebagai Ketua atau Wakil Ketua Pengadilan Agama atau 15 (lima belas) tahun sebagai Hakim Pengadilan Agama. Itu artinya seorang hakim harus seorang ahli.

            Makna kualitas adalah seorang hakim itu harus mempunyai pengalaman banyak dalam menyelesaikan sengketa atau perkara antara pihak-pihak berpekara, dengan pengalamannya yang banyak itu dia bukan hanya sekedar ahli tetapi dia juga berpengalaman, dalam mengimplementasikan keahliannya itu.

          Makna tindak tanduk atau integritas, adalah kematangan pribadi dan sikapnya yang sempurna, dalam melaksanakan tugasnya sebagai hakim. Kematangan pribadi ini akan mendorong hakim menjauhi sikap-sikap rendah atau akhlak yang buruk yang tidak sesuai dengan martabat atau muru’ah seorang Hakim.

              Untuk menguatkan mutu, kualitas, serta sikap atau integritas hakim ini atau untuk membahas profesionalisme hakim, bisa kita kaji dari sebuah Hadits Rasulullah SAW berikut ini :

القضاة ثلاثة واحد في الجنة و اثنان في النار فاما اللذي في الجنة فرجل عرف الحق فقضى به وَرَجُلٌ عَرَفَ الْحَقَّ فَجَارَ فِي الْحُكْمِ فَهُوَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ قَضَى لِلنَّاسِ عَلَى جَهْلٍ فَهُوَ فِي النَّارِرواه أبو دود

Artinya :

              Hakim itu ada tiga macam, satu masuk syurga dan dua masuk neraka. Adapun hakim yang masuk syurga adalah hakim mengenal atau paham betul kebenaran, dan dia memutus perkara dengan kebenaran itu . Sedangkan hakim yang mengenal betul kebenaran, tapi dia curang dalam memutus perkara, maka dia masuk neraka, dan hakim yang memutus perkara atas ketidaktahuan (tidak mengenal betul kebenaran), dia masuk neraka. (Hadits riwayat Abu Daud).

Di dalam Hadits tersebut di atas, ada tiga kategori sikap dalam diri Hakim yaitu sebagai berikut :

  1. Mengenal betul kebenaran, dan memutus dengan kebenaran yang dikenalnya itu.
  2. Mengenal betul kebenaran, tetapi dia memutus bukan dengan kebenaran itu tetapi dengan yang lain yang tidak benar.
  3. Tidak mengenal betul kebenaran, dan memutus atas ketidaktahuannya itu.

            Mari kita perhatikan secara cermat kandungan Hadits tersebut di atas, meskipun sepintas ada tiga kategori hakim dalam Hadits itu tetapi pada hakikatnya hanya ada dua kategori yaitu :

  1. Kategori pertama mengenal betul kebenaran dan memutus dengan kebenaran itu.
  2. Atau kategori kedua yaitu yang berlawanan dengan kategori pertama, yaitu tidak memutus dengan kebenaran yang dia kenal, atau tidak mengenal kebenaran yang dia putuskan. Kategori kedua ini adalah lawan dari kategori pertama.

          Selanjutnya, apa yang yang dimaksud dengan mengenal kebenaran ? Mengenal kebenaran lebih dalam daripada hanya sekedar mengetahui kebenaran, karena mengetahui adalah hasil yang diperoleh atas kerja otak, sedangkan mengenal adalah hasil dari kerja otak bekerjasama dengan hati atau nurani. Bagaimana cara kita bisa mengenal kebenaran? Ada dua jalan untuk mengenal kebenaran dalam bidang kerja seorang hakim pertama, dia harus menguasai dengan mendalam materi hukum acara atau hukum formil, dan menguasai pula hukum materil. Jalan kedua untuk mengenal kebenaran adalah menguasai hawa nafsu, hawa adalah desakan atau keinginan ego sedangkan nafsu adalah desakan atau keinginan jasmani. Bagian kedua ini berarti seorang hakim hakim harus yakin se yakin-yakinnya bahwa dia tidak mengharapkan kebaikan apa-apa termasuk pujian atau ucapan terima kasih dari pihak berperkara, sebaliknya dia tidak takutkan apa-apa dari pihak berperkara, termasuk ancaman atau cacian dan cemoohan. Dia tidak segan karena kaya atau jabatan pihak berperkara, sebaliknya dia tidak hiba karena susah atau lemahnya pihak berpekara. Hakim betul-betul menguasai dirinya dari bujukan hawa nafsu tersebut.

           Dengan dua jalan tersebut di atas, yakni, mengnuasai hukum acara dan hukum materil, serta menguasai diri dari jebakan hawa nafsu, maka hanya inilah satu-satunya jalan untuk menjadi hakim yang professional, dan inilah hakim syurgawi yang menjadi idealisme para hakim.

              Tergelincir di jalan pertama yakni tidak menguasai hukum acara dan hukum materil ini adalah hakim bodoh atau dalam Hadits Nabi tersebut di atas disebut dengan hakim jahil, pasti masuk neraka, karena dia tidak tahu apakah putusannya sudah betul atau sudah melenceng dari kebenaran?

          Tergelincir di jalan kedua, yakni hakim tidak menguasai dirinya, tetapi dirinya dikendalikan oleh hawa/ego dan nafsu/ tuntunan jasmaninya maka dia akan tunduk di bawah telapak kaki orang kaya atau orang berpangkat, atau sebaliknya dia akan menolong orang lemah melebihi haknya karena rasa kasihan kepadanya, keduanya tidak benar dan menyimpang dari jalan syurga.

          Makanya sangat benar ungkapan orang pintar yang mengatakan, bahwa hakim itu tidak punya kawan dan tidak punya lawan di kalangan pihak berperkara, di dalam menjakankan tugasnya sehari-hari kawannya hakim itu hati nurani dan Tuhannya, sedangkan lawannya adalah bisikan syaithan dan hawa nafsunya.

III.  Penutup

Berdasarkan uraian di atas dapat kita simpulan sebagai berikut :

  1. Profesionalisme hakim artinya adalah cara kerja hakim yang bermutu, berkualitas dan berintegritas.
  2. Untuk mencapai profesionalitas tersebut seorang hakim, harus menguasai hokum acara, hokum materi dan menguasai dirinya dari jebakan hawa dan nafsunya.
  3. Hakim yang profesionalisme, adalah hakim ideal yang dipastikan oleh Rasulullah satu-satunya kategori hakim yang masuk syurga.
  4. Idealisme dan profesionalisme hakim itu adalah perjuangan seorang hakim yang menginginkan hidup syurgawi di dunia dan di akhirat.

WALLAHU A’LAM

Sofifi, 4 Maret 2021

Penulis